
Bab 1 — Bau Beras dan Hujan Kota Lama
Semarang selalu punya cara menguji kesabaran. Udara lembap yang menempel di kulit, suara klakson bersahutan, dan hujan yang turun tanpa aba-aba.
Di sudut Pasar Karangayu, berdiri sebuah kios kecil bertuliskan **Toko Beras Sumber Rezeki**.
Di balik tumpukan karung beras, Mega duduk mencatat hitungan demi hitungan di buku besar yang penuh coretan waktu.
“Empat premium, tiga medium… tapi yang bayar cuma dua,” bisiknya lirih.
Usahanya baru delapan bulan. Modal dari tabungan bertahun-tahun dan pinjaman koperasi kecil.
Ia memilih beras karena sederhana. Nasi adalah kebutuhan pokok. Namun hidup tak semudah logika kebutuhan.
Harga naik. Distributor berubah. Pelanggan berhutang.
Dan di kamar kosnya malam itu, sebuah notifikasi muncul:
“Temenku menang besar di baliplay, katanya lagi slot gacor hari ini banget!”
Mega menatap layar lama.
Ia bukan penjudi.
Tapi ia lelah.
Lelah menjadi kuat.
Lelah menjadi dewasa.
---
Bab 2 — Telepon yang Menguatkan
Sore yang sepi, telepon dari Ibu berdering.
“Mega, kamu sehat, Nak?”
“Sehat, Bu,” jawabnya, menahan suara agar tak pecah.
“Kamu capek ya?”
Pertanyaan itu menembus pertahanannya.
“Kadang, Bu.”
Ibunya berkata pelan,
“Rezeki itu bukan soal cepat atau lambat. Tapi soal siap atau tidak.”
Mega menatap layar ponselnya lagi. Notifikasi lama tentang BaliPlay dan slot gacor masih ada.
Jarinyanya hampir menekan.
Namun ia berhenti.
“Ini jalan keluar… atau pelarian?” pikirnya.
---
Bab 3 — Ngopi di Simpang Lima
Di get more info Simpang Lima, lampu kota berkilau.
“Kamu kelihatan stres,” kata Rani.
“Aku cuma capek jadi dewasa,” jawab Mega.
“Percaya keberuntungan?” tanya Mega tiba-tiba.
Rani tersenyum tipis.
“Keberuntungan itu kesempatan yang datang saat kamu siap.”
Mega terdiam.
“Jangan tukar proses panjangmu dengan harapan instan,” lanjut Rani.
Kata-kata itu terngiang di kepalanya.
---
Bab 4 — Titik Terendah
Beberapa minggu kemudian, badai datang.
Harga naik. Pelanggan pergi.
Mega duduk di lantai toko, menyeka air mata tanpa suara.
Ia membuka ponsel.
Ia mendaftar di BALIPLAY.
Ia mencoba slot gacor hari ini.
Awalnya kecil.
Lalu bertambah.
Lalu hilang.
Dalam beberapa jam, uang stok minggu depan habis.
Sunyi.
Lebih sunyi dari hujan malam.
Ia sadar —
yang ia cari bukan uang instan.
Ia hanya takut gagal.
---
Bab 5 — Kemenangan yang Sebenarnya
Keesokan harinya, dengan mata sembab, Mega datang lebih pagi.
Ia menempel poster:
“Terima Pesanan Beras Partai Besar.”
Ia mendatangi warung satu per satu.
Ditolak.
Diabaikan.
Ditertawakan.
Namun satu warung setuju.
Lalu bertambah.
Lalu bertambah lagi.
Hingga suatu malam, pemilik katering besar datang.
“Saya butuh pasokan rutin. Bisa?”
Mega menahan napas.
“Bisa, Pak.”
Nilainya jauh lebih besar dari apa pun yang pernah ia dapat.
Malam itu hujan turun lagi.
Namun kali ini, rasanya seperti tepuk tangan langit.
Bukan angka di layar.
Bukan sensasi situs slot gacor.
Melainkan hasil dari konsistensi.
Ia mengirim pesan pada ibunya:
“Bu, Mega dapat kontrak besar.”
Balasan datang cepat:
“Alhamdulillah. Ibu bangga.”
---
Bab 6 — Transformasi
Tahun berikutnya, toko berkembang.
Ia merekrut karyawan.
Ia bekerja sama dengan petani lokal.
Ia belajar negosiasi.
Rani datang lagi.
“Masih percaya situs slot gacor?” godanya.
Mega tertawa.
“Kalau ada yang gacor di hidupku, itu kerja keras yang konsisten.”
---
Epilog — Simbol di Ujung Malam
Hidup seperti beras.
Tak bisa langsung jadi nasi.
Harus ditanam.
Dirawat.
Dipanen.
Dimasak.
Keberuntungan mungkin seperti hujan.
Datang dan pergi.
Tapi kerja keras adalah tanahnya.
Tanpa tanah yang siap, hujan hanya jadi genangan.
Dan Mega tahu sekarang —
Kemenangan terbesar bukan saat kita mendapat segalanya.
Melainkan saat kita tidak lagi tergoda kehilangan diri demi sesuatu yang cepat.